Kamis, 26 Agustus 2010

X5 Bukan Jiplakan She

SEBELUM menulis review ini, selama sekitar dua minggu penulis menguji Nokia X5. Selama rentang waktu itu, berkali-kali penulis harus meluruskan persepsi tentang desain X5. 

"Bentuknya kok mirip dengan Nexian She ya? Wah, Nokia sekarang menjiplak desain ponsel lokal." Kalimat itu yang rutin penulis dengar, terutama dari pemilik gerai ponsel saat melihat X5.

Mendengar pendapat seperti itu, penulis merasa gerah. Sebab, pendapat mereka sebenarnya kurang tepat. Kalau mau dirunut, She alias NX-G788 tampaknya diilhami oleh Mito 301 yang lebih dulu beredar. Namun, karena jarang beriklan, ponsel Mito itu relatif tak terdengar. Beda jauh dengan She yang menggunakan model iklan Maudy Koesnadi dan dipromosikan besar-besaran.

Penulis menduga, Mito pun sebenarnya terinspirasi oleh ponsel lain. Apa? Nokia 7705 Twist yang kali pertama diumumkan pada September 2009. Ponsel dual band CDMA itu tidak didistribusikan ke Indonesia. Cobalah mencari fotonya dengan menggunakan bantuan Google. Nah, desain 7705 Twist tersebut yang sepertinya dimodifikasi oleh Nokia sampai menghasilkan X5.

Sama dengan ponsel lain Nokia yang nomor tipenya diawali dengan huruf X, X5 mengandalkan kemampuan bermusik. Suara yang diperdengarkan keras sekaligus jernih. Kala pengguna merasa kurang cocok dengan lagu yang sedang dimainkan, ada cara unik yang dapat dilakukan pengguna. Letakkan X5 di bidang datar, kemudian putarlah ponsel. Boleh searah jarum jam, boleh pula berlawanan arah. Secara acak ponsel Symbian itu akan memilih satu lagu yang bakal diperdengarkan.

Untuk mengetahui jumlah SMS yang belum terbaca, ada pula jurus iseng yang bisa dilakukan pengguna. Ketika X5 dalam posisi terkunci, tekanlah tombol volume, lalu goyangkan ponsel. Jumlah suara "tik" yang terdengar menunjukkan jumlah SMS yang belum terbaca.

Layar 2,36 inci 262 ribu warna, memori internal 200 MB, slot microSD, wi-fi, bluetooth A2DP, dan mendukung layanan HSDPA/HSUPA merupakan sebagian spesifikasi X5. Konektor microUSB digunakan sebagai penghubung charger dan kabel data. Tersedianya konektor audio 3,5 mm memberikan keleluasaan kepada pengguna untuk memakai earphone atau headphone favoritnya.

Bila layar ponsel berharga jual sekitar Rp 1,875 juta tersebut digeser ke atas, spontan terlihat sebuah qwerty keyboard. Tombol-tombolnya terasa nyaman, bahkan untuk pengguna berjari tangan besar. Sensasi yang diciptakan mengingatkan penulis dengan qwerty keyboard Nokia E61 yang diperkenalkan pada lima tahun silam.

Ponsel berdimensi fisik 74,3 x 66,44 x 16,85 mm dan berat 129 gram itu dibekali kamera yang beresolusi 5 megapiksel. Sebuah lampu kilat mendampingi kamera tanpa kemampuan autofocus tersebut. (Herry S.W./c8/tia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar